Saturday, 4 August 2012

Tagged under:

Memperkuat Azzam Dari Sang Azzam



Ada sebuah fragmen yang membekas, malam itu terjadi dialog yang mengharu biru antara seorang paman dan keponakan yang ingin menikah, dan inilah jawaban sang paman:
“Jika saya punya anak gadis seperti Anna, lalu datang dua lelaki yang melamarnya, yang satu sangat serius belajar dan sedang menyelesaikan program masternya, sedangkan yang satu bermasalah akademiknya dan sibuk berjualan tempe dan bakso, kira-kira yang mana yang akan saya pilih?” 

Benar sekali, ini scene salah satu Film KCB. Petikan dialog antara Ustadz Mujib dan Azzam yang paling membekas dalam diri saya setelah menontonnya. Saya menganggapnya sebagai salah satu realitas hidup sesungguhnya, tidak semata mengejar melankolisme berlebihan atau keinginan untuk menyenangkan pemirsa sesegera mungkin.

Apabila kita berada dalam posisi sebagai orangtua Anna, siapakah yang akan anda pilih? Tentu andalah yang paling tahu jawabannya :). Secara logis sebagian kita pasti memilih Furqon yang akan segera menyandang titel S2, dia merupakan paduan pesona dunia (tampan, pintar, kaya). Adapun Azzam yang sudah 9 tahun belajar, ternyata masih "belum" serius dengan permasalahan pendidikannya, malah menyibukkan diri dengan berjualan tempe dan bakso.

Melihat lebih dalam, saya merasakan bahwa saya sedang menjadi Azzam, hehe. Bukan GR juga sih. Khairul Azzam tetap lebih baik, karena kelalaian akademisnya merupakan imbas dari rasa cinta dan pengorbanan penuh demi kebahagiaan keluarganya. Bagaimana dengan saya? Saya masih belajar, masih mengurusi hal yang remeh-temeh, banyak mengeluh, kurang bersyukur, pusing dengan ketidakmampuan menata dan mengelola setiap rasa terhadap takdir yang terkarunia. Alhamdulillah melalui Azzam, Allah perkenankan saya menyadari kekurangdewasaan saya, dengan menunjukkan jawaban sebentuk renungan mendalam untuk diri. Renungan itu yang kemudian hadirkan penentram hati, bahwa; "sebaik-baik penyembuh kegelisahan adalah kuatnya kesungguhan (Azzam)". Hmm, kalau nanti sempat berpapasan dengan Azzam, saya cuma mau bilang, "Zam, ini karenamu juga." #dialogimajiner.:)

Sampai pada kalimat ini, bila sahabat menganggap saya sedang "ditolak" rasanya tidak tepat, hehe. Saya hanya sedang menerka-nerka, bila langkah itu diambil sekarang, maka jawaban Ustad Mujib adalah prediksi yang paling logis untuk diperkirakan. Ah.. betapa malunya, karena dalam surat cinta Allah telah mengabadi pesan itu: "Fa idza 'Azzamta Fatawakkal 'Alallah" ( QS Ali Imran : 159)

Di akhir kisah, melalui serangkaian perjalanan, ujian, mencari hingga memperbaiki diri, kita ketahui Azzam mendapatkan sosok diinginkan. Melalui Azzam, beginilah cara Allah memberi rezeki dan jodoh pada hambaNya; dihulur mesra atau setelah lewati rasa duka, melalui ujian cinta.

Masih Kurang Tawakal, Masih Kurang Ikhtiar

0 komentar:

Post a Comment